Mahasiswa Hedonis: Antara Tuntutan Gaya Hidup dan Realita Pendidikan



Di balik gemerlap kehidupan kampus yang kerap digambarkan penuh semangat intelektual, ada satu fenomena yang kini makin mencuat di tengah generasi muda: hedonisme di kalangan mahasiswa. Hedonisme, sebuah pandangan hidup yang menjadikan kesenangan dan kenikmatan sebagai tujuan utama, kini mulai merasuki gaya hidup sebagian mahasiswa. Gaya hidup ini bukan hanya memengaruhi pola konsumsi, tetapi juga nilai-nilai, prioritas, dan bahkan integritas akademik mereka. Fenomena ini menjadi alarm keras yang patut kita cermati, karena mahasiswa adalah elemen kunci masa depan bangsa.

Hedonisme dalam Konteks Mahasiswa

Hedonisme bukanlah hal baru dalam filsafat; ia telah dibahas sejak zaman Yunani kuno. Namun, dalam konteks modern, terutama di kalangan mahasiswa, hedonisme menjelma dalam bentuk yang sangat konkret: nongkrong di kafe mahal setiap akhir pekan, pamer barang bermerek di media sosial, berburu diskon fashion online, hingga obsesi terhadap citra diri digital. Mahasiswa hedonis lebih banyak mengejar validasi sosial daripada prestasi akademik. Mereka hidup dalam logika konsumsi, bukan produksi.

Ironisnya, fenomena ini tidak selalu lahir dari mahasiswa kalangan atas. Banyak mahasiswa yang sebenarnya berasal dari keluarga biasa-biasa saja, namun memaksakan gaya hidup mewah demi ‘terlihat keren’. Tak jarang, mereka berutang, menggunakan uang kuliah untuk keperluan konsumtif, bahkan sampai terjerat pinjaman online demi memenuhi standar gaya hidup semu. Di sinilah letak persoalan yang krusial: ketika identitas dan harga diri mahasiswa ditentukan oleh kemampuan konsumsi, bukan oleh kualitas pikirannya.

Faktor Penyebab Hedonisme Mahasiswa

Ada beberapa faktor yang mendorong tumbuh suburnya hedonisme di kalangan mahasiswa. Pertama, pengaruh media sosial. Instagram, TikTok, dan YouTube dipenuhi konten pamer kekayaan, wisata mewah, dan gaya hidup selebritas yang dianggap ideal. Mahasiswa yang sedang mencari jati diri mudah terpengaruh dan ingin menjadi bagian dari dunia glamor tersebut.

Kedua, budaya konsumerisme yang makin mengakar dalam masyarakat kita. Iklan dan promosi dari brand besar sangat agresif menyasar generasi muda. Merek fashion, gadget, dan kosmetik berlomba-lomba menciptakan citra bahwa kebahagiaan bisa dibeli, bahwa penampilan menentukan nilai seseorang.

Ketiga, kurangnya pendidikan karakter di lingkungan kampus. Kampus idealnya bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga pembentukan nilai. Namun, di banyak perguruan tinggi, pendidikan moral dan etika hanya menjadi pelengkap, bukan inti. Akibatnya, mahasiswa lebih paham cara membuat konten viral ketimbang cara membedakan benar dan salah.

Faktor keempat adalah tekanan sosial dan psikologis. Dalam lingkup pergaulan kampus, ada norma-norma tak tertulis tentang ‘cara tampil’. Siapa yang tak ikut nongkrong, dianggap kurang gaul. Yang tak punya iPhone terbaru, dianggap ketinggalan zaman. Ini menimbulkan tekanan yang membuat mahasiswa cenderung ikut arus, meski harus mengorbankan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung tinggi.

Dampak Hedonisme terhadap Dunia Akademik

Gaya hidup hedonis tidak datang tanpa konsekuensi. Ketika mahasiswa lebih sibuk mengurusi penampilan dan media sosial daripada membaca buku atau berdiskusi ilmiah, maka kualitas intelektual mereka pun menurun. Banyak dosen mengeluhkan mahasiswa yang malas berpikir kritis, asal-asalan mengerjakan tugas, atau bahkan melakukan plagiarisme karena tak ingin repot.

Tak hanya itu, mahasiswa hedonis juga cenderung apatis terhadap isu sosial. Mereka lebih peduli dengan drama selebritas daripada isu kemiskinan, lingkungan, atau ketidakadilan. Mereka kehilangan sensitivitas sosial yang justru menjadi ciri utama mahasiswa sebagai agen perubahan.

Lebih jauh, gaya hidup ini juga membentuk pola pikir instan. Mereka ingin sukses cepat, kaya mendadak, dan terkenal seketika. Maka tak heran jika banyak yang tergoda jalan pintas: menjadi selebgram tanpa substansi, mencari sponsor sugar daddy, hingga menipu untuk tampak sukses. Di sini, esensi perjuangan sebagai mahasiswa yang seharusnya membangun karakter tangguh dan pemikiran matang menjadi kabur.

Menimbang Realitas dan Solusi

Kita tentu tak bisa serta merta menyalahkan mahasiswa sepenuhnya. Mereka adalah produk dari lingkungan sosial dan budaya zaman ini. Dalam dunia yang serba visual dan cepat seperti sekarang, godaan untuk hidup hedonis memang sangat kuat. Namun, hal ini bukan berarti tidak bisa diubah.

Perlu ada pendekatan holistik dari berbagai pihak. Pertama, kampus harus memperkuat pendidikan karakter dan pembinaan mental mahasiswa. Kurikulum perlu mengintegrasikan nilai-nilai moral, tanggung jawab sosial, dan kesadaran kritis. Dosen dan tenaga pendidik harus menjadi teladan, bukan hanya pengajar teori.

Kedua, peran keluarga dan orang tua sangat penting. Mereka harus memberi pengertian bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh barang yang dimilikinya, tetapi oleh integritas dan kontribusinya. Jangan sampai keluarga justru menjadi pendorong budaya pamer dan konsumsi.

Ketiga, mahasiswa sendiri harus mulai melakukan refleksi. Mereka perlu bertanya: apakah gaya hidup ini benar-benar memberi makna? Apakah kebahagiaan sejati bisa ditemukan di balik layar smartphone, atau justru dalam perjuangan menimba ilmu dan membangun masa depan?

Tak kalah penting, pemerintah dan lembaga sosial juga perlu membuat program-program yang mengajak mahasiswa kembali kepada misi sejatinya: menjadi pemikir, penggerak, dan pelayan masyarakat. Kegiatan sosial, pengabdian masyarakat, serta ruang-ruang dialog publik bisa menjadi alternatif menarik yang mengisi waktu mahasiswa dengan hal-hal bermakna.

Penutup: Mahasiswa dan Tantangan Zaman

Zaman terus berubah, dan tantangan yang dihadapi mahasiswa hari ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Jika dulu tantangannya adalah represifitas politik, maka sekarang tantangannya adalah kebebasan tanpa arah. Hedonisme mungkin terasa menyenangkan saat ini, tetapi ia bisa menjadi racun yang perlahan melumpuhkan daya pikir, rasa empati, dan semangat juang mahasiswa.

Mahasiswa adalah harapan bangsa. Tidak ada bangsa yang besar tanpa generasi muda yang berpikir besar. Untuk itu, gaya hidup hedonis harus dilihat sebagai tantangan serius, bukan sekadar tren. Ia harus ditanggapi dengan pendidikan, keteladanan, dan refleksi kolektif. Saat mahasiswa mampu menyeimbangkan antara kenikmatan hidup dan nilai perjuangan, di situlah kematangan sebagai insan intelektual terbentuk.

Thank you :)

Comments

Popular posts from this blog

puisi puisi

Resensi buku The power of language