Resensi buku The power of language

 Berwibawa hanya dengan kata


Judul : The power of language
Penulis : Shin Do Hyun & yoon Na Ru
Penerbit : Haru Media
Ketebalan : 208 hal
Cetakan : pertama, maret 2020
ISBN : 978-623-7351-34-4
Penerjemah : Hyacinta Louisa

        Pasti kita sering bertemu dan berbicara kepada seseorang, tapi pernahkah kalian bicara kepada seseorang yang memiliki tutur bahasa yang cukup bagus. Pasti kalian merasa tertegun dan langsung menyukai cara bicara orang tersebut, banyak orang yang mendambakan hal tersebut tetapi kita bingung bagaimana caranya. Maka dari itu Shin Do Hyun dan Yoon Na Ru menulis buku yang berjudul The Power Of Language. Shin do hyun yang merupakan ahli dalam ilmu Humaniora, ia berkuliah di jurusan Filsafat dan jurusan Bahasa Korea. Ia telah mempelajari ilmu filsafat sejak masa mudanya hingga sekarang. Ia juga senang membaca karya literatur klasik dari Barat dan Timur. Sedangkan Yoon Na Ru seorang pengajar Bahasa Korea dan pelajaran menulis di SMA di Seoul. Ia dinobatkan menjadi penulis melalui karya esainya

        Buku The Power Of Language merupakan buku self improvement bagaimana caranya bertutur kata yang baik menurut kisah klasik Barat dan Timur dari pandangan para filsuf, buku ini terbagi kedalam 8 tahapan, yang mana ke delapan tahapan tersebut sudah disusun secara sistematis oleh sang penulis. 

        Self improvement memang penting untuk dilakukan, guna meningkatkan kualitas pada diri kita, kita tidak seharusnya terus menerus berada di zona nyaman, setidaknya satu langkah yang membuat kamu berkembang, sekalipun hanya langkah kecil. Begitupun dengan cara kita bertutur kata, Kata-kata memang memiliki sihir, keajaiban, kekuatan, harapan dan keindahan tersendiri. Dari situlah muncul istilah mutiara kata, kata pencerahan, kata-kata motivasi dan syair-syair pujangga yang membius sukma. Dari situlah penting meningkatkan intelektual dalam berbahasa, salah satu nya dengan pengenalan diri.

"Jika mangkuknya bersudut, air didalamnya pun akan bersudut" 

Merupakan kutipan dari seorang filsuf yang berasal dari Tiongkok bernama -Xunzi'. Maksud dari kutipan di atas adalah jika ingin memoles kata-kata, pertama-tama kita harus memoles mangkuknya terlebih dahulu. Jika ingin mengucapkan kata-kata yang bermakna, kita harus menjadi orang dengan pemikiran yang dalam. Jika ingin mengucapkan kata-kata yang dipercaya kita harus menjadi orang yang bisa dipercaya. 

        Dengan bisa mengontrol emosi juga merupakan salah satu kunci keberhasilan segala sesuatu. Orang yang tidak bisa mengendalikan emosi di dalam dirinya memiliki kebiasaan untuk menumpahkan emosi begitu saja tanpa menyaringnya terlebih dahulu sehingga menimbulkan hal negatif yang sebenarnya tidak perlu. Jika kita belajar teknik berbicara yang luar biasa pun tanpa memiliki fondasi yang kuat, kita tidak bisa berjalan jauh dan akan dengan segera terjatuh kembali ke dasar. Tak hanya berperang, dalam seni berbahasa pun memiliki teknik seperti teknik standar berbicara setelah berpikir, tidak berbicara berlebihan, berbicara sambil memperhatikan lawan bicara dan lain-lain. 

        Maka dari itu, pengembangan diri sangatlah dibutuhkan. Kita harus belajar memahami diri kita dengan lebih mendalam, mencintai diri kita sendiri dan meningkatkan rasa percaya diri. Dan buku ini sangat lah tepat untuk kita yang sedang melakukan evaluasi tentang tata bahasa kita, dengan diksi yang bisa diterima oleh semua kalangan. Dengan ukuran buku yang minimalis sehingga memudahkan kita untuk membawanya kemana-mana. Sayang nya penerbit seolah acuh terhadap kualitas nya sehingga banyak sekali lembaran-lembaran buku yang masih menyatu sama lain, sehingga agak menyulitkan pembaca yang ingin membaca dan apa daya kita harus memisahkan lembaran tersebut. 

        

        
              
   
  


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mahasiswa Hedonis: Antara Tuntutan Gaya Hidup dan Realita Pendidikan

puisi puisi