CERPEN

 LEZATNYA SAYUR DAUN KELOR


Selesai menjemur baju di halaman,ibu menyuruh saya memetik daun kelor yang tumbuh di dekat sumur. Setelah meletakkan daun kelor itu di amben-amben untuk selanjutnya ibu bersihkan, melepaskan daun-daun kelor dari tangkainya, teman-teman saya memanggil. Saya pun bergegas pergi, bermain dengan mereka di halaman rumah tetangga yang lebih luas dan nyaman. Kebetulan saat itu saya dan teman-teman sedang libur sekolah.

Di sela-sela bermain lompat tali, kami saling bercerita tentang menu masakan yang ibu kami buatkan di rumah masing-masing. Ada yang makan dengan ayam goreng, sayur bayam, sayur sop, dll. Lalu tiba giliran saya bercerita. Saya bilang ibu memasak tempe goreng dan sambal terasi untuk sarapan tadi pagi. Kemudian salah satu dari mereka bertanya, “Lha, terus yang kamu petik tadi itu apa?”

“Daun kelor,” jawab saya dengan cepat. Teman saya pun kembali bertanya, “Jadi kamu makan daun kelor? Ih … ngeri. Memangnya kamu tidak tahu, ya? Daun kelor itu, kan, tumbuhannya orang mati.”

Mendengar ucapannya itu, saya langsung merinding. Saya terdiam cukup lama karena mengingat-ingat sesuatu. “O iya, itu kan daun yang biasa di pakai buat mandiin jenazah,” Gumam saya dalam hati. Saya tidak tahu tujuan dipakainya daun kelor sebagai salah satu perlengkapan memandikan jasad orang yang sudah meninggal, tetapi memang begitulah adat yang berlaku di lingkungan tempat saya tinggal. Saat proses pemandian, biasanya daun kelor dipukul-pukulkan (pelan-pelan) ke tubuh jenazah yang sudah disirami dengan air.

Gara-gara itu juga akhirnya saya menolak saat ibu menyuruh saya makan. Saya bilang saya tidak mau makan daunnya orang mati. Sontak, ibu tertawa dan membujuk saya agar mau makan. “Coba dulu, nanti kalau tidak suka,ya sudah, tidak apa-apa. Makan yang lain saja.”

Dengan mata yang menyipit, saya menyicipi sayur kelor buatan ibu. Wah, rasanya enak dan segar! Apalagi jika dimakan dengan tahu-tempe goreng dan sambal terasi yang pedes, Wiih … mantap betul. Saya pun jadi lupa dengan ketakutan saya yang tadi. Kata ibu, tidak apa-apa makan daun kelor. Tidak usah takut dan tidak usah mendengarkan omongan teman saya itu. Ibu juga bercerita kalau ada tetangga kami yang anti daun kelor. Sejak kecil hingga besar seumuran ibu, ia tidak sekali pun memkan dau kelor. Alasannya sama seperti saya, takut karena itu daunnya orang mati.

“Hem, kasihan. Gara-gara takut, jadi tidak tahu rasanya daun kelor yang enak ini,” batin saya kemudian sambil senyum-senyum sendiri

***

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa Hedonis: Antara Tuntutan Gaya Hidup dan Realita Pendidikan

puisi puisi

Resensi buku The power of language