Menggali Permasalahan Peserta Didik Dalam Mempelajari Bahasa Inggris

Assalamualaikum wr.wb, Alhamdulillah kali ini saya dan teman-teman dari Progam Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Nahdlatul Ulama Lampung mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai salah satu tenaga pendidik dari SMA Ma'arif NU 5 Purbolinggo Lampung Timur. Pada kesempatan kali ini saya dan teman-teman memfokuskan untuk menggali permasalahan-permasalahan yang ada pada peserta didik dalam mempelajari Bahasa Inggris.


Ibu Ria Wijayanti selaku narasumber membagi nya kedalam 4 poin yang dijelaskan yaitu berkaitan, speaking, listening, writing dan reading. Keempat 4 poin ini mempunyai kelemahannya masing-masing dan masalah yang paling umum sebagaimana ibu ria wijayanti katakan yaitu kekurangan siswa dalam memperbanyak vocabulary, oleh sebab itu hal yang paling pertama harus kita kuasai yaitu memperbanyak vocabulary, sehingga kita lebih mudah untuk memahami pelajaran bahasa Inggris ini. Ada beberapa cara untuk meningkatkan vocabulary kita seperti yang ibu Ria lakukan dalam memberikan materi Bahasa Inggris.

  1.  Menghafal, sebagian dari siswa pasti ada saja yang menganggap sepele ketika medapat tugas berupa hafalan, padahal menghafal adalah salah satu cara yang paling jitu untuk memperbanyak vocabulary dengan cara story telling, menghafal lagu etc.
  2. Bernyanyi, ini adalah salah satu metode yang dilakukan ibu Ria Wijayanti kepada para siswa, yaitu bernyanyi beliau menuturkan bahwa masing-masing siswa dibebaskan untuk memilih lagu yang mereka sukai yang pasti lagu yang menggunakan bahasa Inggris, setelah itu baru satu-persatu siswa maju kedepan untuk menyanyikan lagu yang ia pilih dengan melihat lirik dengan menggunakan proyektor.
  3. Menonton video berbahasa Inggris, ini juga dapat memperbanyak vocabulary kita, sehingga setelah kita mempunyai vocabulary yang banyak itu akan mempermudah untuk mempelajari bahasa inggris di level selanjut bisa itu grammar, tenses dan juga akan mempermudah untuk melakukan speaking.

Itu tadi masalah yang ada pada peserta didik dan itu adalah masalah dasar yang pasti dialami oleh para beginners (pemula). Selain masalah tentang materi-materi bahasa Inggris ada juga masalah yang berkaitan tentang moral, banyak para siswa yang menganggap remeh pelajaran bahasa Inggris yang dianggap tidak terlalu berguna untuk kehidupan sehari-hari sehingga siswa tidak begitu antusias dalam belajar bahasa Inggris yang lebih parahnya ada yang sampai bolos pelajaran, tidur di kelas dan tidak memperhatikan guru ketika menjelaskan. Padahal bahasa Inggris adalah pelajaran yang tak kalah penting dari pelajaran yang lainnya, karna kita tahu bahasa Inggris adalah bahasa international yang digunakan orang diseluruh dunia, baik di dalam kehidupan sehari-hari, dikantor, ketika kita berkunjung keluar negeri dan banyak lagi.

Ibu ria wijayanti menuturkan bahwa penting sekali untuk membenarkan mindset para siswa dalam proses belajar, sehebat apapun siswa itu dinasihati kalau mindset mereka masih belum berubah maka akan sulit juga untuk merubah siswa itu menjadi pribadi yang lebih baik terutama dalam belajar. Nah, oleh karna itu para pendidik juga harus dituntun untuk bisa memberikan motivasi dan nasihat kepada para peserta didik nya sehingga motivasi dan nasihat itu akan menjadi pertimbangan bagi peserta didik untuk merubah mindset nya menjadi peserta didik yang disiplin, rajin, dan lebih giat lagi dalam belajar. Karna menjadi guru tidak hanya sebatas memberikan materi kepada peserta didik melainkan guru juga harus bisa memberikan contoh yang baik dalam berprilaku, baik dari perkataan, perbuatan dan masih banyak lagi. Dari wawancara kali ini banyak sekali nasihat-nasihat yang dapat kita petik salah satu nya seperti yang dikatakan oleh para pendidik.

"Kalau Mau Kaya, Jangan Jadi Guru (Honor)!

Ungkapan itu sederhana, datar, singkat dan padat, tetapi penuh makna. Sebuah pernyataan yang spontanitas menasihati, bahwa ketika Anda melangkahkan kaki dan menetapkan hati untuk mengabdi menjadi guru, maka hilangkan angan-angan menjadi orang kaya. Sebab, katanya, guru adalah pengabdian diri. Menyerahkan segenap jiwa dan raga untuk kemaslahatan dunia. Merelakan hidup seperti lilin, yang menerangi ruang, tetapi memusnahkan sendiri. 

Itu adalah nasihat yang acapkali terlontar dari mulut mulia sang tenaga pendidik yang sampai saat ini masih bersarang di ingatan dan akan selalu saya ingat nasihat itu sampai kapan pun! Bagaimana pun juga guru adalah mesin pencetak bagi para generasi bangsa dalam menggapai cita-cita nya. Dan kita 

"tidak tahu kedepannya seperti apa, setahun, dua tahun kita tidak tahu nasib kita kedepannya akan seperti apa, intinya jalani dengan penuh semangat, sabar, ikhlas dan totalitas".

 Itu adalah nasihat dari Ibu Ria Wijayanti yang ditujukan khususnya kepada para calon tenaga pendidik.

Nah itu tadi hasil wawancara kami dengan Ibu Ria Wijayanti selaku narasumber dan juga guru bahasa Inggris di SMA Ma'arif NU 5 Purbolinggo Lampung Timur, kami juga akan memberikan hasil wawancara berupa audio mp3 yang kami cantumkan dibawah, dan mohon maaf tidak disertai video wawancara karna ada beberapa kendala yang memang tidak memungkinkan untuk melakukan perekaman video. Disela-sela wawancara juga terdapat beberapa guyonan-guyonan, karna kami memang ingin wawancara dengan bahasa yang santai, Susana yang santai dan yang pasti enjoyable. 

Mohon maaf atas segala kekurangan yang dilakukan penulis baik dari penyampaian bahasa yang kurang berkenan, kesalahan dalam penulisan dan yang lain-lain. Maka dari itu saya sebagai penulis menginginkan kritik dan saran bagi para pembaca sekalian mengingat ketidak sempurnaan penulis dalam membuat karya tulis ini. Saya akhiri wassalamu'alaikum wr .wb

Link hasil wawancara






Comments

  1. Sangat bermanfaat sekali🙏

    ReplyDelete
  2. Press f to author👏

    ReplyDelete
  3. Informasi yang di sampaikan sangat relate dan sangat memotivasi untuk para guru honorer

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mahasiswa Hedonis: Antara Tuntutan Gaya Hidup dan Realita Pendidikan

puisi puisi

Resensi buku The power of language