Seorang Petualang Pantang Untuk Menyerah
Judul : Sang Pemimpi
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Ketebalan : 266 halaman
Cetakan : Cet. 48, September 2021
ISBN : 978-602-291-663-5
Mengambil tema persahabatan dan perjuangan di dalam kerasnya kehidupan. Novel Sang Pemimpi merupakan novel kedua trilogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Memiliki kisah sangat menarik yang dilakoni oleh tiga orang pemuda yaitu Arai si simpai keramat dengan ide-ide yang kadang di luar nalar, Ikal yang berambisi merebut juara kelas dari tangan Arai dan Jimbron pemuda tambun penyuka kuda. Perjuangan Arai dan Ikal dalam mewujudkan cita-citanya tampak seperti tak ada hari esok, pemuda pulau Tanjoeng Hampar ini sibuk memperkaya pengetahuannya dengan terus belajar demi untuk menjadi orang sukses.
Berawal dari kejaran guru Mustar yang sedang mencari murid-murid yang tidak mengikuti upacara. Arai, Ikal dan Jimbron terpaksa bersembunyi di dalam gudang yang di penuhi ikan-ikan dalam peti hasil tangkapan nelayan, dengan bau busuk menyerang ketiga hidung mereka. Tak kehabisan akal Arai selalu muncul dengan ide anehnya itu, untuk meloncati para-para jemuran ikan asin, tetapi tampak nya ide tersebut gagal setelah ia memalingkan wajahnya ke tubuh tambun Jimbron. Arai dan Jimbron lah pelaku utama dalam ide tersebut. Walaupun mereka bertiga menjadi murid yang menjengkelkan -Arai saja sebenarnya- di lain sisi mereka menjadi murid kesayangan para guru-guru di sekolahnya terutama guru Mustar dan Guru Balia. Arai yang flamboyan sangat digemari di sekolahan ia sangat pandai dalam hal hitung- menghitung. Guru Mustar sangat senang dengan Arai dan kadang-kadang juga jengkel dengannya, dengan ide-ide konyolnya yang selalu membawanya dalam situasi darurat, terlebih saat Arai mengajak Ikal menonton film di sebuah bioskop. Arai yang flamboyan tak ayal membuat Ikal tidak bisa menolak ajakan dari Arai.
Namun demikian semangat juang dan tekad yang keras terpancar pada diri mereka bertiga dengan bantuan guru Balia yang memotivasi mereka untuk bersekolah setinggi-tingginya, karna kesuksesan akan mudah diraih dengan ilmu yang tinggi. Alhasil setelah lulus dari SMA, Arai dan ikal memutuskan merantau ke ibu kota Jakarta untuk mencari pekerjaan dan fokus utamanya adalah untuk mencari beasiswa disana. Mereka berdua diantar sampai di dermaga oleh beberapa orang diantaranya orang tua dari Ikal dan guru Balia, guru Mustar yang sangat mengapresiasi perjuangan mereka berdua, tak lupa sahabatnya Jimbron yang harus berpisah dengan Arai dan Ikal memberikan sebuah celengan berbentuk kuda -jenis Galapagos- yang berisi uang Tabungan dari Jimbron selama berbulan-bulan yang ia persembahkan untuk Arai dan Ikal.
Perjuangan mencari beasiswa di Jakarta pun diliputi dengan rasa prihatin, ia harus mencari pekerjaan terlebih dahulu untuk kebutuhan selama di perantauan. Menjadi salesman perabotan dapur, penjaga warung potokopian pernah mereka berdua lakoni, sesekali ia membaca sebuah koran didapatinya sebuah lowongan beasiswa. Rasa senang meliputi hati mereka berdua, tak ambil tempo Arai dan Ikal segera mendaftarkan dirinya untuk mengikuti tes tersebut. Tak lupa mereka dengan pernyataan motivation letter yang guru Balia berikan kepada murid-muridnya, ada tiga pilar yang harus ada pada kolom motivation letter: Pengabdian, Minat dan Miskin.
“saya ingin mendapatkan beasiswa ini karena keadaan ekonomi saya yang miskin menyebabkan saya tidak bisa membiayai sendiri Pendidikan saya, sedangkan saya sangat bersemangat untuk menuntut ilmu. Saya merasa jurusan yang ditawarkan beasiswa ini sangat cocok dengan minat saya. Jika lulus dari jurusan itu nanti, saya siap bekerja dan mengabdi pada Lembaga yang memberikan saya beasiswa ini” (hal.105)
Itulah pernyataan motivation letter yang pernah guru Balia tuliskan kepada murid-muridnya. Namun sayang, meski Arai dan Ikal telah mengisi kolom motivation letter sama seperti yang pernah guru Balia tuliskan mereka tidak lolos pada tes beasiswa tersebut.
Kegagalan demi kegagalan tidak membuat mereka berdua menyerah, mereka tetap berjuang menggapai cita-citanya yang mulia itu. Sudah hampir 14 kali Arai dan Ikal selalu menemui kegagalan ketika mencari beasiswa. Sampai di titik dimana Arai dan Ikal tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar kontrakan, mereka terancam menjadi gelandangan di ibu kota. Arai yang tak tega melihat kondisi tersebut diam-diam pergi meninggalkan Ikal ketika sedang mengantarkan lamaran kerja menjadi tukang sortir di kantor pos. Arai pergi ke Kalimantan untuk mencari pekerjaan dan ikal tetap bertahan di kerasnya kehidupan ibu kota sebagai buruh tukang sortir di sebuah kantor pos, sembari ia mencari info tentang pembukaan beasiswa.
Setelah menunggu cukup lama Ikal akhirnya menemukan lowongan beasiswa kuliah di luar negeri, cepat-cepat ikal mendaftar dan menyelesaikan tes tersebut, yang setelah itu ia Kembali kekampung halamannya dikarenakan ayahnya yang mulai sakit-sakitan. Setelah berminggu—minggu menunggu kabar hasil kelulusan beasiswa kuliah di luar negeri akhirnya tukang pos datang menghampiri rumah Ikal dan memberikan sepucuk kertas hasil tes beasiswa kuliah di luar negeri. Setelah dibuka, dibaca akhirnya Ikal lulus pada tes tersebut ia diterima di universite de Paris sorbone, Prancis. Setelah semua dipersiapkan Ikal bertolak menuju bandara, ketika menunggu penerbangan terdengar orang yang memanggil Ikal dari belakang. Dan ternyata orang tersebut adalaha si simpai keramat Arai, yang ternyata lolos dalam tes beasiswa yang sama diikuti oleh Ikal. Setelah sekian lama mereka berdua dalam pahit dan getirnya perjuangan, akhirnya Ikal dan Arai dipertemukan dalam visi misinya menjadi seorang backpacker dan menyelami dalamnya lautan ilmu.
Sore itu, dengan kapur tulis, sambil mencontoh gambar peta di sebuah buku, Arai menggambar peta dunia di dinding kamar kontrakan kami. Kuingat gambar serupa pernah digambar Kepala Sekolah Balia di papan tulis di kelas kami.“Inilah peta perjalanan kita ke awal dunia, Boi!” kata Arai sambil menunjuk peta dunia (hal.143)
Kisah yang sangat menarik dari novel ini membuat kita untuk terus selalu berjuang, berdoa dan bertawakal untuk menggapai cita-cita. Semangat juang yang di perankan oleh Ikal dan Arai patut kita jadikan inspirasi dalam setiap perjuangan kita.
Kekurangan novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata tidak memiliki kekurangan yang begitu mendalam, hanya saja akhir dari konflik Arai dan Ikal kurang begitu tajam pada akhir cerita novel ini.
Itu tadi resensi novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, semoga bermanfaat dan penulis memohon kritik dan saran yang bersifat membangun, sebagai acuan penulis untuk lebih baik lagi dalam menulis sebua karya tulis.

cerita yang sangat menarik, tetapi pengemasan resensi kurang, diksi-diksi yang diambil kurang begitu menddalam sehingga pembaca kurang begitu dapat secara emosional
ReplyDelete