Apakah aku seorang pembunuh?
“Tolong belikan pembalut sama Snack buat cemilan”, “baik Bu, laksanakan, dan silahkan tunggu dirumah”. Meluncur ke supermarket terdekat dan juga menyiapkan mental, kenapa harus saya yang kebagian pembalut, itu sangat memalukan bagi sebagian pria, dan saya sebagian dari pria itu. Siklus fortuna dari kurir antar paket memang gak mesti kadang suka dan kadang-banyak- duka tapi ya begitulah suka tidak suka yang penting bisa membuat perut ku terisi, setidaknya dengan nasi dan taburan garam halus, makanan khas ku dulu ketika kemah Pramuka dengan satu grub ku. Lagian tempat kerja mana yang mau membayar ku dengan jutaan rupiah toh ijazah ku hanya sebatas lulusan Taman Kanak-kanak, tapi sudahlah nasi sudah menjadi bubur. Setelah barang-barang terbeli segera meluncur ke sumber rezeki untuk menghantarkannya pembalut dan juga cemilan, aku rasa dia masih 20 an tahun, saya menebaknya dari isi chat terakhir ketika ia memesan pesanannya itu, begini bunyinya “jangan lama-lama perutku sudah gak kuat” dengan emoticon wajah bulat berwarna kuning dengan mata berkaca-kaca. Saya mengemudikan motor butut saya menyusuri dinginnya malam pas sekali untuk melayangkan lamunan kebahagian fana di cakrawala, saya memilih untuk bekerja sebagai tukang antar paket pada malam hari, entah kenapa malam hari memang begitu menyenangkan apalagi dengan mendendangkan lagu-lagu jadul dari Tommy J.Pisa membuatku tambah menyukai pekerjaan sebagai Kurir antar paket. “tin..tinn” suara klakson motor yang ku pencet,
“pakett” teriak ku di depan pintu rumah dengan nomor.
Suara derap langkah semakin keras, semakin keras dan saya bersiap untuk bertemu dengan orang yang memesan pembalut dan cemilan kepada ku. “ini paketnya mbak, totalnya 25 ribu” jawabku, “ini pak, kembaliannya buat bapak saja” dengan menyodorkan uang 50 ribu, “terima kasih banyak mbak’’ jawabku dengan senyum tipis kepadanya.
Sebelumnya saya menggambarkan gadis tersebut seperti Putri Diana -putri wales- dengan rambut terikat rapi, wajahnya yang Anggun dan bau badannya yang wangi bisa membius jutaan laki-laki di dunia, tetapi setelah dibuka pintu rumahnya, sedikit aku terkejut dengan penampilannya yang acak-acakan: baju yang compang camping, rambut yang berantakan dan badannya agak sedikit bau. Apakah seburuk itu ketika para gadis sedang datang bulan? Tanyaku dalam hati di tengah perjalanan menuju camp. Iya, aku memiliki camp tersendiri bagi para kurir pengantar paket, kurir-kurir berkumpul di satu camp tersebut sembari menunggu pesanan. Tapi biarlah, kenapa aku sangat mengurusi urusan gadis itu?. Mungkin dia sedang ingin membuat ilfeel pacarnya yang begitu protektif kepadanya! Aku memutar kembali dendang lagu Tommy J. Pisa dengan earphone yang agak sedikit mencekik leherku itu menuju camp. Kali ini Dewi Fortuna masih berpihak pada ku, dan aku takkan menceritakan keberuntunganku ini kepada teman-teman ku. Ketahuilah kawan ketika engkau menceritakan keberuntungan mu, mereka selalu meminta pajak yang harus di bayarkan dalam bentuk secangkir kopi panas. Sebab itu lah saya kunci rapat-rapat mulut saya. Saya lebih suka teh panas ketimbang kopi, karena saya selalu inget sebuah kata-kata yang antah berantah dari mana asalnya saya lupa, begini kira-kira bunyinya “saya lebih suka pemuda yang minum kopi sambil memikirkan masa depan bangsa, dari pada kutu buku yang hanya mementingkan dirinya sendiri”. Saya mengartikan kalimat itu secara harfiah, sebab itu lah saya tidak mau minum kopi karena saya tidak sanggup bila harus memikirkan masa depan bangsa. Saya lebih cocok dengan teh tawar panas lebih cocok bagi penderita diabetes seperti ku. Kurang dari satu jam lagi sebelum aku pulang ke rumah, karena saya lebih mementingkan tidur yang cukup dari pada mencari uang sampai membangunkan penyakit ku. Saya berharap dalam satu jam terakhir ada yang membutuhkan jasa ku untuk membelikan sesuatu selain pembalut. Sambil menyeruput teh panas, udara dingin mulai menerkam tubuh ku, tak lama handphone ku berbunyi tampaknya seperti ada yang menghubungi nomer ku, segera kusambar handphone ku. “selamat malam, ada yang bisa saya bantu” tanyaku.
“pak saya mau minta tolong, antarkan paket saya, bisa tidak ya?” jawab pelanggan tersebut
“oh, bisa pak, kalau boleh tau alamat pengirimannya dimana dan barangnya apa yang di antarkan ya pak?” jawabku lirih penuh kesopanan
“tolong bapak antar ke desa antasari jalan nomor 128, barangnya cuma jamu dan penerimanya atas nama Teressa Putri dengan nomor rumah 142” jawab si pelanggan
“baik pak, segera saya meluncur ke rumah bapak untuk mengambil paketnya” balas ku kepada si pelanggan.
Malam hari ini saya merasa malam yang paling berbeda dari malam yang biasanya, bukan karna saya mendapatkan uang 25 ribu dari si cewe berpenampilan lusuh tadi, tetapi karna saya harus menghantarkan paket yang jarang saya dapatkan selama bekerja menjadi kurir antar paket. Orang modern sekarang lebih memilih pola hidup sehat seperti makan teratur, berolahraga dan juga meditasi sebagai jamu di dalam hidupnya. Bergegas saya menuju alamat si pelanggan tadi yang tak jauh dari camp saya sekitar 15 menit sudah sampai. Seorang pria bertubuh tinggi besar dengan masker yang menutupi wajahnya berdiri di depan gerbang tempat ia tinggal. Yang ternyata alamatnya sama persis dengan yang ingin aku tuju, bergegas aku hampiri pria tersebut yang tak lain adalah pelanggan yang menghubungiku tadi.
“tukang antar paket ya pak?” tanya pria itu
“iya pak” jawabku singkat
Si pria itu langsung memberikan paketnya kepada ku yang kemudian akan aku antarkan ke alamat yang pri itu inginkan.
“ini paketnya pak, tadi alamatnya sudah saya kasih ya pak” saut pria itu
“oke pak, maaf, kalo boleh tau ini atas nama siapa ya pak (nama pria tersebut)” tanyaku ke pria misterius
“emm, atas nama Joseph pak” balas pria itu agak sedikit gugup ketika menjawab.
Aku langsung menuju alamat pengiriman dengan barang yang di bungkus rapi dengan lilitan buble wrap untuk memastikan barang tersebut aman ketika tak sengaja jatuh. Barangnya kecil hanya sejengkal tangan saja, botolnya dari kaca berwarna hijau, agak sedikit langka jamu tersebut, tetapi aku rasa itu ginseng korea karna terdapat aksara korea pada botol tersebut. Saya agak sedikit menancap gas motor karna perjalanan lumayan agak jauh, sekitar 30 menit kalau menurut google maps. Agak sedikit berkelok-kelok jalan yang aku lalui menuju alamat pengiriman. Sepi sekali tak ada kendaran ataupun orang lain di daerah tersebut, hanya ada Aku dan alunan music keroncong dari Mus Mulyadi, enak sekali untuk membuat suasana tenang seperti sedang rebahan di kasur empuk. aku perlambat laju motor butut ku karna sebentar lagi akan sampai tempat tujuan, dengan nomor rumah 142, dengan teliti saya mengurutkan nomor rumah satu-persatu. Tak lama aku mengurutkan nomor rumah, aku melihat angka yang tertempel di pintu rumah dengan angka 142, tampak itu tujuan yang sedang aku cari. Aku turun dari motor dan segera aku memanggil keluar penghuni rumah tersebut.
“selamat malam, paket!” kataku sambil mengetok-ngetok pintu.
Tak ada jawaban sama sekali, sampai-sampai aku harus memanggil yang ketiga kalinya.
Terdengar sayup-sayup jawaban dari penghuni rumah. Aku melakukan cocokologi lagi, dari suara yang aku dengar dia seorang wanita kira-kira umur 28 tahunan. Aku duduk di kursi depan rumah nya sembari menunggu penghuni tersebut membukakan pintu.
“paket apa ya??” saut penghuni rumah sambil membuka pintu rumahnya
Cocokologi ku tak pernah meleset, benar dia seorang wanita tapi entah umur berapa dia.
“ini ada paket dari pak Joseph, isinya jamu gitu katanya bu” jawabku kepada wanita yang bernama Terresa itu.
“Joseph siapa ya pak, saya gak punya kenalan yang namanya Joseph” jawab Terresa dengan muka bingung.
“waduh, saya kurang tau bu yang jelas ini isinya jamu pegel linu bu, semacam ginseng korea gitu” saut ku.
Awalnya wanita itu enggan menerima paket dari pak Joseph tetapi setelah aku paksa-paksa dan aku menyebut ginseng korea, wanita itu langsung menerima paket dari pak Joseph, lagian apa salahnya menerima paket dari orang lain. Mungkin pak Joseph naksir sama bu Terresa, hemm.
Aku langsung menuju kontrakan tempat tinggal saya, karna aku sudah hampir menghabiskan sisa waktu satu jam saya sebelum jam kerja bikinan saya selesai. Pendapatan malam ini bisa dikatakan lebih banyak ketimbang malam-malam biasa, setidaknya membuat ku tidak melulu makan menggunakan nasi dengan taburan garam halus lagi. Cuci kaki dan setelah itu saya langsung tidur, karna esok pagi saya harus menyiapkan sarapan pagi saya, dan juga beberes kontrakan karna tak ada Pri yang mau membantuku melakukan itu semua kecuali adegan di sebuah sinetron.
***
Saya teringat mimpi semalam, di datangi oleh seorang wanita dengan mulut yang penuh dengan busa, berwajah seram dan sebuah pecahan botol di genggamannya, seakan ingin menggorok leherku menggunakan botol tersebut. Tapi mimpi hanyalah mimpi, saya tak begitu peduli dengan mitos-mitos tentang mimpi. Yang saya tau itu hanyalah manifestasi kerja otak terhadap emosi kita. Saya lebih peduli untuk membuat sarapan pagi hari dengan tempe goreng dan sambel ulek salah satu makanan favorit saya, setelah nya saya beberes kontrakan: menyapu, mencuci perkakas dan mencuci pakaian. Kerjaan ku sehari-hari, tak ada kerjaan sampingan selain menjadi buruh tukang antar paket, tak seperti guru honorer yang sibuk mencangkul sawah sepulang mengajar. Di sela-sela beberes kontrakan terdengar seseorang memanggil namaku, sebelum membuka pintu terlihat sedikit celah di jendela yang ditutupi hordeng, tampak beberapa pria yang berdiri di depan pintu kontrakan ku, saya pun membuka pintu dengan penuh tanda tanya di dalam otak.
“ada apa ya pak?” ucap ku ke segerombolan pria tersebut.
Tak ada respon ucapan apapun dari para pria itu, mereka langsung mengeluarkan borgol dalam saku nya dan langsung memborgol kedua tangan ku.
“ayo ikut aku ke kantor polisi” jawaban pria itu sambil menyeret tubuhku yang akan di masukan ke dalam mobil.
“ga usah banyak bicara buruan masuk mobil” saut pria satunya. Saya agak sedikit melawan dengan mendorong badan saya ke arah yang berlawanan, rambut saya di jambak oleh salah satu pria tersebut, di seretnya saya secara paksa untuk masuk mobil mereka. Setelah saya tau ternyata pria-pria tersebut merupakan polisi intel yang bertugas menangkap para penjahat seperti kasus pembunuhan, bandar narkoba dan kupu-kupu malam. Tetapi saya bertanya-tanya “salah apakah saya?”. Mereka tak menjawab pertanyaan ku mereka cuma mengatakan “nanti kamu bisa jelasin ketika di ruang interogasi”. Saya pun berusaha menenangkan diri saya, sesekali saya melihat kaca spion tengah milik pak sopir, tak sengaja pula saya saling bertemu pandang dengan pak sopir.
“apa liat-liat!” ucap pak sopir dengan mata terbelalak, saya tak berani menjawab, hanya menundukan kepala yang berani saya lakukan. Setelah masuk ruang interogasi, saya di tanya-tanya banyak oleh orang yang berseragam polisi.
“kamu apakan orang itu” tanya pak polisi
“kamu siapa pak?” jawabku dengan mengerutkan dahi.
“halah gak usah belaga gak tau, kamu kan yang meracuni Teressa hingga mati?” saut pak polisi dengan tegas. Saya mencoba mengingat-ngingat kembali ketika pak polisi itu menyebut nama Terressa, sedikit lama saya mengingat setelah nya saya baru sadar orang itu adalah kemarin yang saya anatarkan paket yang berisi jamu dari pak Joseph.
“loh, saya gak ngapa-ngapain dia pak, saya cuma menghantarkan jamu yang di berikan oleh pak Joseph!” balas ku dengan sedikit lama karna harus mengingat kembali siapa orang yang bernama Terresa itu.
“setelah dilakukan visum dia mati gara-gara keracunan minuman, dan setelah di selidiki sementara kamu menjadi tersangka. Karna kamu yang menghantarkan minuman racun itu, setelah ini kamu sementara harus mendekam di sel tahanan sampai siding kasus di mulai” jelas pak polisi kepada saya.
Seketika saya langsung menangis setelah mendengarkan penjelasan dari pak polisi, setidaknya ada dua hal yang membuat saya menangis: satu, saya tak menyangka bahwa paket dari pak Joseph yang saya kira itu adalah benar jamu ternyata itu adalah racun, yang membuat Terresa Putri meninggal dengan mulut berbusa, persis dengan mimpiku waktu itu, dua, saya menangis karna saya harus mendekam di sel tahanan yang mana ini merupakan pengalaman paling buruk yang pernah saya alami. Tetapi saya harus tegar, karna ini belum akhir masih ada kesempatan untuk saya tidak di tahan di sel tahanan. Saya mengikuti sidang demi sidang menjadi terdakwa bersama dengan pak Joseph yang belakangan itu merupkan nama samaran, nama aslinya setelah di ketahui adalah Krishna Gayuh Mustika. Saya sangat mengutuk perbuatan dari Pak Krishna, sehingga membuat orang yang tidak bersalah menjadi salah, tetapi saya berusaha melupakan itu semua saya fokus menjalani sidang demi sidang untuk mengetahui nasib saya kedepannya.
***
Proses demi proses telah saya jalani, cukup panjang sekali perjalanan untuk menentukan hasil untuk satu perkara saja, dan pelaku utama yaitu Pak Krishna harus mendeka di penjara selama 12 tahun, saya pun tak luput seperti Pak Krishna, saya harus mendekam di penjara selama 2 tahun. Rasanya tak adil menerima keputusan itu tetapi hukum tetaplah hukum, tak memandang sesusah apa hidup kamu, entah kamu sebagai penjual sapu ataupun seorang gelandangan sekalipun, kalau terbukti salah sudah di pastikan penjara akan menunggumu. Di dalam sel saya puas melihat orang di siksa, di pukul, tendang bahkan di sundut rokok, saya pun tak luput dari siksaan itu sekujur tubuh saya biru lebam habis di siksa oleh tahanan yang lebih senior. Tak ada kegiatan yang menyenangkan di dalam sel, kecuali menuliskan isi hati yang sedang kesusahan “tuhan apakah saya seorang pembunuh” karya yang saya hasilkan di dalam sel tahanan, karya itu juga sebagai permohonan maaf saya kepada mendiang Terresa Putri yang mati karena minum racun, yang saya berikan kepadanya. Tahukah kalian, bahwa saya satu sel dengan Pak Krishna tetapi saya enggan berinteraksi dengan dia, rasanya saya belum bisa menerima perbuatnnya itu. Sekarang dia menjadi bulan-bulanan oleh para tahanan lainnya yang lebih senior sekujur tubuhnya penuh dengan cocolan puntung rokok, giginya pun tak luput dari sasaran yang menyebebkan di menjadi ompong, begitu sadis siksaan tersebut karna Pak Krishna sebagai pelaku utama dalam perkara ini.
Comments
Post a Comment