Aku Sayang Kamu, Aku Minta Maaf
sumber gambar karya penulis langsung
Bagaimana kalo aku gagal pada akhirnya? bagaimana kalo aku tidak berhasil seperti orang-orang? bagaimana kalo aku tidak berhasil memenuhi ekspektasi orang tuaku? Bagaimana bagaimana dan selalu banyak tanya yang diawali Bagaimana, mungkin itu yang dirasakan oleh sebagian anak.
setiap anak pasti ingin tumbuh sebagai insan yang dapat membahagiakan orang tuanya terlepas dari apakah mereka anak pertama, kedua ataupun anak terakhir (bungsu). Mereka tumbuh untuk memenuhi ekspektasi orang tuanya, diliputi kecemasan, diselimuti kebingungan tentang masa depannya kelak apakah bisa berhasil atau tidak, seakan bahagia hanya datang sebagai selingan saja dalam hidupnya.
Sebagian dari mereka terlahir dalam kecukupan mendapatkan Good parenting, sebagian lagi terlahir dalam kekurangan (kurang dalam hal finansial, kurang dalam pola asuh, kurang dalam kasih sayang). Malangnya aku melihat dua anak kecil terlahir dikondisi yang kurang menguntungkan, rumahnya tak begitu jauh dari tempat tinggalku, mungkin hanya berjarak 30 meter saja. Aku melihatnya setiap hari hidupnya begitu memilukan rasa takut, cemas, terisolasi, ketidak pastian. Perasaan buruk itu semua tercampur aduk menjadi satu. Mereka mulai kehilangan siapa dirinya, lalu kehilangan teman-temannya dan orang-orang disekitarnya.
Aku teringat sekali ketika mereka ditinggalkan kedua orang tuanya untuk pergi merantau mencari sedikit rezeki yang dapat ditukar dengan segenggam nasi serta lauk pauknya. Bisa aku yakinkan bahwa itu sedikit rezeki karna kedua orang tuanya hanya menjadi buruh pemetik lada. kala itu anaknya yang paling besar berumur 16 tahun dan yang paling kecil berumur 10 tahun, hidup berdua di bekas warung kecil tanpa jaminan akan makan apa besok, akan dapat uang dari mana besok. Bisa aku katakan demikian karna aku tahu kedua orang tuanya tidak meninggalkan uang sepeserpun. Dan itu sangatlah menyedihkan bukan?
Aku teringat sekali ketika anak yang paling kecil itu selalu pergi dengan tangan kosong -tanpa uang- ketika pergi kesekolah, bukan hanya disekolah saja sebenarnya melainkan diluar sekolah pun kantongnya tidak pernah terisi uang jajan. Kalau memang lagi ada rezeki, yang pertama aku pikirkan pasti uang jajan untuk mereka berdua. Walaupun tidak banyak seenggaknya bisa lah membuat mereka merasa sedikit bahagia.
Dan yang paling ku ingat dari mereka adalah ketika ia terisolasi dari teman-temannya, orang-orang disekitarnya. Kurang tau pasti kenapa bisa terjadi kepada mereka berdua, bisa kuhitung dengan jari berapa kali mereka tersenyum dalam sehari (itu pun senyum palsu kureka, biar orang mengira dia sedang bahagia) selainnya, dipenuhi dengan renungan panjang bagaimana bisa benar-benar bahagia.
Seakan mereka terpinggirkan dari dunia, hidupnya hanya berkutat disitu-situ saja. Kalau tidak didalam warung kecilnya atau tidak pergi kerumahku, mereka senang menghabiskan waktu dirumahku. Sebisa mungkin aku berusaha untuk menjadi orang yang spesial bagi mereka, selayaknya kakak kandung yang bermain dengan adik kandungnya yang menciptakan suasana yang harmoni penuh keceriaan.
Walaupun aku bukan menjadi kakak kandungmu, walaupun aku tak serumah denganmu. Aku selalu ada untukmu, aku selalu berusaha untuk mewujudkan senyum mu yang asli tanpa harus berpura-pura bahagia.
Dari : Kakakmu
Untuk : Adik-adikku
"Semua pasti berlalu, semoga jalanmu akan lebih baik dan indah"
Dewasa membuatku sadar, bahwa kita tidak pernah benar-benar dekat satu sama lain ketika kita perlahan-lahan tumbuh dewasa. Hubungan antara kita mungkin terasa canggung, tapi juga ikatan terbaik yang pernah aku rasakan. Kita lebih sering berantem dari pada berpelukan satu sama lain. Disamping kekacauan itu, aku selalu berharap kalian mendapatkan semua hal-hal baik didunia ini. Ketika kalian berjuang dengan hidupmu, aku berharap menjadi orang pertama yang kalian butuhkan. Kalian dapat datang kapankun kalian butuh. Jangan pernah takut dengan hidup; kamu akan menghadapinya. Kalian selalu ada rumah untuk kembali dan mengadu. Jadilah lebih baik dariku.
Cerita diambil dari kisah hidup dua orang anak yang hidupnya kurang terurus, dirundung pilu setiap hari, kesedihan. Pokonya segala Bad Feeling diaduk menjadi satu, dilain sisi mereka mempunyai kakak laki-laki yang tidak serumah dengan mereka dilahirkan di rahim yang sama dengan ayah yang berbeda. Dia selalu berusaha membuat adik-adiknya bahagia dan mendorong mereka hidup layak.
Bak seorang anak kepada orang tuanya, pasti mereka selalu berusaha keras untuk membuat bahagia orang tua, memberikan segala apa yang mereka mau dan menaikan derajat kedua orang tua. Semoga saja kita semua bisa mewujudkan itu semua...
Terimakasih Sudah Membaca :)

ceritanya bikin terharu huhu
ReplyDelete🥺
Deletemenyala🔥🔥🔥
ReplyDelete🔥
DeleteCiptain satu novel sih ki😁
ReplyDeleteBismillah bisa✊
Deletesuch a wonderful story tho,it's me btw
ReplyDeleteThanks, i appreciate it a lot🥺🙏
Delete